Sabtu, 15 November 2014

Beli Properti Sekarang Sebelum Harga BBM Naik

Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Eddy Hussy mengungkapkan bahwa harga properti saat ini dalam keadaan stabil. Sebelum harga BBM bersubsidi naik, Eddy menyarankan masyarakat segera berinvestasi properti.

"Justru beli segera sebelum harga BBM naik," ujar Eddy di pembukaan Real Estate Expo 2014, di JCC, Sabtu (15/11/2014).

Menanggapi efek kenaikan harga BBM untuk sektor properti, Eddy menilai akan berdampak kepada harga materi dan bahan bangunan. Hal itu pun juga akan berpengaruh kepada harga jual properti yang bisa naik dikisaran 10 sampai 15 persen.

"Kita belum tahu, kenaikan lebih kepada kenaikan material membuat perhitungan atau prediksi," ungkap Eddy.

Eddy juga berpendapat meski harga BBM bersubsidi naik, namun hal itu bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Selama alokasi subsidi BBM digelontorkan untuk infrastruktur dan properti.

"Pasti ada dampaknya, ada kenaikan itu ekonomi baik, juga akan membantu masyarakat mendapatkan kesejahteraan," ujar Eddy.

Jumat, 14 November 2014

Banyak Megaproyek Properti Dibiayai dari Kocek Pribadi

Selain fenomena dominasi apartemen mewah yang laris manis dipesan kalangan jetset, pasar properti Jakarta juga diwarnai fenomena mengalirnya dana pribadi. Sejumlah pengembang mengklaim mendanai sendiri proyek propertinya senilai triliunan rupiah zonder pinjaman perbankan.

Itu juga sebuah fenomena. Bahkan, Farpoint Group berani mengeluarkan duit terlebih dahulu untuk membangun proyeknya, The Hundred, hingga selesai. Setelah itu, baru kemudian mereka menjualnya kepada publik. Padahal, The Hundred merupakan megaproyek multifungsi dengan estimasi nilai proyek sebesar Rp 3,5 triliun.

CEO Farpoint Group Jusup Halimi membeberkan, terdapat tujuh orang secara bersama menginvestasikan dananya di proyek The Hundred.

"Kami tidak menggunakan bank loan. Pendanaan murni dari ketujuh investor yang mempercayakan uangnya kepada Farpoint untuk dikelola. Memang bisa dibilang berani," kata Jusup, Rabu (12/11/2014).

Jusup melanjutkan, optimisme proyeknya dapat terserap pasar karena pengembalian investasi properti saat ini lebih tinggi ketimbang bunga deposito perbankan. 

"Jadi, saya yakin, pasar akan menerima lebih cepat dari yang sudah diperhitungkan," ujarnya.

The Hundred merupakan proyek multifungsi yang mencakup apartemen dengan harga serentang Rp 50 juta-Rp 60 juta per meter persegi, hotel mewah Sofitel So, dan perkantoran Grade A.

Sementara itu, selain Farpoint, yang berani mendanai proyeknya tanpa pinjaman perbankan, adalah Lippo Cikarang untuk megaproyek skala kota Orange County. Strategi pendanaan mereka adalah mengundang investor asing untuk berbagi risiko. 

"Lippo menggunakan ekuitas perseroan dan menggandeng perusahaan asing untuk membiayai Orange County," jelas Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Tbk Meow Chong Loh.

Orange County sendiri menempati area seluas 322 hektar dengan eskpektasi nilai proyek sejumlah Rp 250 triliun.

Adapun Pondok Indah Group melalui PT Metropolitan KentjanaTbk sukses meyakinkan pasar untuk membeli Pondok Indah Residences Jakarta. Dengan begitu, mereka tidak kesulitan dalam membiayai dan melanjutkan proses konstruksi setelah promosi selama beberapa bulan.

"Nilai proyek ini sekitar Rp 6 triliun. Kami sejauh ini masih menggunakan ekuitas perseroan dan mengandalkan uang konsumen. Pinjaman perbankan tidak dipandang perlu karena produk kami diminati pasar," ujar Wakil Presiden Direktur PT Metropolitan Kentjana Tbk Jefri S Tanudjaja.

Indikasi money laundry?

Menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, fenomena penggunaan dana pribadi atau perusahaan tanpa pelibatan perbankan justru menekan risiko investasi.

"Itu mungkin saja dilakukan. Kan bisa konsorsium, ramai-ramai bermitra menggalang dana dari sejumlah investor bisa handle dan mengembangkan beberapa proyek sekaligus. Kalau pakai bank, dana dari penjualan dipakai buat bayar bunga, risikonya tinggi jika penjualan melambat. Mending berpartner kan, karena tidak dikejar bayar bunga," ujar Hendra, Jumat (14/11/2014).

Selain konsorsium, kata Hendra, banyak juga yang tidak mau berpartner dengan alasan supaya bisa mengendalikan proyek secara penuh. 

"Yang mau melakukan mekanisme ini, bisa jadi, pakai uang bank. Lebih baik pakai uang bank. Asal bisa full control," tambah Hendra.

Hendra tak menampik, jika "uang panas" atau hot money atau pencucian uang juga beredar di pasar properti Indonesia. Namun, dia tidak bisa memastikan proyek mana saja yang menggunakan uang panas.

"Ini merupakan isu sensitif. Saya no comment," kata dia.

Namun, yang jelas, lanjut Hendra, uang investor yang masuk properti belum tentu "mati" uangnya. Hal itu mengingat pasar sedang lesu saat ini. Pasalnya, rata-rata nilai tanah naik terus. Kalau tidak meroket, proyeksinya landai. Tapi, tetap naik dan lebih menarik daripada disimpan di bank. Di sisi lain, tingkat inflasi tinggi membuat nilai mata uang semakin kecil dan daya beli makin tergerus.

"Jadi, tetap lebih menarik beli properti ketimbang disimpan di bank. Sambil kembangkan pelan-pelan atau bertahap," tuturnya.

Pendek kata, imbuh Hendra, investasi properti selalu lebih menarik. Meskipun pembelian harus dengan kredit KPA atau KPR. Yang pasti di negara-negara cash is the king seperti China, Vietnam, Indonesia, bisa saja orang beli properti dengan membawa uang sekarung.

Sementara itu, di  Amerika Serikat atau Indonesia pada waktu krisis finansial, banyak bank tidak bisa bertahan alias gulung tikar. Akhirnya, para investor malah memiliki preferensi untuk berinvestasi di sektor properti.

"Karena properti on sale. Banyak orang butuh uang sehingga mereka bayar tunai. Tanpa pakai KPR," pungkasnya.

Kawasan Legok Jadi Incaran Pembeli Properti

Seiring dengan perencanaan pembangunan jalan tol Serpong-Balaraja yang menghubungkan Kecamatan Serpong, Pagedangan, Legok, Panongan, Cikupa dan Balaraja, kini Legok menjadi lokasi incaran selanjutnya bagi para pembeli properti.

Selain akses tol langsung yang menjadi daya tarik terbesar, lokasi Legok juga memiliki potensi yang sangat besar karena lokasinya yang strategis karena diapit oleh perumahaan BSD, Karawaci dan Gading Serpong.

Pengembang Tombak Intan Developer optimistis dengan potensi perkembangan Legok dalam kurun waktu 5 tahun mendatang. Hal ini dapat terlihat dengan komitmennya untuk membangun proyek perumahaan berkualitas premium di wilayah ini. Saat ini proyek perumahan yang telah berdiri adalah The Green Residence, yang sudah terjual lebih dari 70 persen sejak dipasarkan.

Marketing Director Tombak Intan, Mandy Purwa Hartono mengatakan, saat ini kebanyakan masyarakat memang masih berada di dalam tahap edukasi untuk wilayah Legok itu sendiri, namun juga sudah banyak yang mengetahui potensi daerah ini.

"The Green Residence sendiri adalah perumahan yang terbaik di daerah Legok. Dari segi lokasi, perumahaan kami hanya ditempuh selama 20 menit dari Summarecon Mall Serpong dan hanya 5 km dari proyek Indonesia International Expo (IIE) yang akan menjadi tempat konsernya Michael Buble dan sarana pameran skala internasional terbesar se Asia Tenggara," ujarnya di Tangerang, Kamis (13/11).

Dikatakan, kalau proyek perumahaan Tombak Intan merupakan sunrise properti dimana perkembangannya masih jauh dari titik jenuh dan hal ini akan menarik banyak orang untuk berinvestasi dan pindah ke wilayah ini di masa mendatang.

"Memilih properti itu yang penting kan 5L (lokasi,lokasi,lokasi,lokasi dan lokasi). Dengan lokasi yang strategis dan aksesibilitasnya yang mudah, para calon pembeli properti tidak akan salah pilih untuk melakukan investasi di The Green Residence," kata Mandy.

"Kami juga baru saja melakukan soft launching tipe terbaru untuk rumah dua lantai yaitu Saphire dengan promo harga dan tata cara pembayaran yang terjangkau. Promo ini juga bertujuan untuk mendorong para pembeli properti segera mengambil keputusan berinvestasi mengingat harga rumah yang akan segera naik seiring dengan kenaikan harga BBM," ujarnya.

Tahun 2015 Legok akan semakin semarak dikarenakan perusahaan pengembang properti skala besar yang juga sudah siap masuk dan meramaikan industri properti di daerah ini seiring semakin dekatnya waktu kepada pembangunan jalan tol Serpong-Balaraja.

Kamis, 13 November 2014

Prospek Properti Hanya Tumbuh 15 Persen

Ciputra Group Tbk menilai perkembangan suku bunga yang cukup tinggi hanya mampu mengerek pertumbuhan properti kisaran 10 hingga 15 persen 2015. Managing Director Ciputra Group Cakra Ciputra mengatakan pendukung katalis pertumbuhan properti tahun depan pada stabilitas politik.

"Situasi politik yang relatif kondusif menjadi salah satu faktor perekonomian Indonesia dapat tumbuh sesuai ekspektasi pemerintah," ujar Cakra di Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Ia menjelaskan saham properti akan menjadi pilhan utama ketika bentuk investasi lain sedang bergejolak. Kata dia, lihat saja seperti saham, emas, kurs rupiah, yang kurang stabil.

"Harga properti tidak ada yang turun ketika kondisi krisis," jelas dia.

Bentuk dukungan lain properti bisa merangkak naik tipis karena harga tanah selalu naik termasuk harga sewa properti.

"Inilah alasan Kuat ekspansi usaha, dengan membuka proyek baru di Banten dan kota -kota besar seluruh Indonesia," kata dia.

REI Sulsel Berharap Tahun 2015 Industri Properti Lebih Bergairah

Ketua REI Sulsel, Arief Mone berharap industri properti 2015 lebih bergairah.

Pasalnya pasca penggabungan kementerian pu dengan perumahan rakyat, diharapkan fasilitas infrastruktur untuk perumahan lebih meningkat.

"Kita harap ada dukungan lebih untuk infrastruktur, terutama daerah-daerah pembukaan wilayah baru dalam pengembangan perumahan," katanya Kamis (13/11/2014).

Menurut Arief industri properti tetap menjadi primadona ke depan apalagi dengan pembangunan rumah-rumah bersubsidi.

Olehnya kata Arief dukungan infrastruktur dibutuhkan agar pengembang tidak kerepotan lagi untuk mengucurkan investasi lebih dalam mengembangkan rumah murah.

Ia pun memproyeksi tahun depan rumah subsidi masih akan tumbuh subur seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan perumahan.

"Besar harapan kami dengan kementerian saat ini bisa memberikan dukungan pembangunan infrastruktur yang merata,  jika terpenuhi backlog bisa ‎sedikit ditekan,"ujarnya.

Proses Perizinan Properti Berbelit

Memasuki pemerintahan baru, pengusaha properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia masih mengeluhkan terkait lamanya proses perizinan. Mereka berharap, dengan pemerintahan yang baru yang dipimpin Jokowi, proses perizinan yang berbelit-belit ini dapat disederhanakan.

"Perizinan merupakan aspek paling penting dalam bisnis properti, baik perizinan dalam membangun komersial atau rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)," kata Ketua Penyelenggara Rakernas REI yang juga Pengurus REI, Adrianto P Adhi di Kantor REI, Jakarta(12/11/2014).

 

Adrianto menyebut, sebagai pelaku usaha properti ia berharap ke depannya di pemerintahan Jokowi dapat menyederhanakan izin-izin tersebut, terlebih izin dalam pembangunan rumah untuk MBR.

"Misalnya pemerintah mau mempermudah izin IMB untuk membangun rumah MBR, itu sudah sangat berarti bagi pengembang. Kalau pemerintah mau begitu berarti pemerintah benar-benar concern pada rakyat," ucapnya.

Adrianto mengungkapkan, setidaknya ada 28 izin yang harus diurus dalam membangun sebuah proyek komersial dan rumah MBR. Dan biasanya memakan waktu paling cepat tiga bulan dan paling lama bisa hingga dua tahun.

Sementara itu, menurut Wakil Ketua Umum REI Bidang Komunikasi Theresia Rustandi menyebut sebenarnya persoalan perizinan lama maupun sebentar, yang penting adalah kepastian. "Kalau jelas, kita sebagai pengusaha bisa merancang bisnis kita. Itu yang kita harapkan," ucapnya.

Theresia juga menambahkan, tidak ada waktu ideal berapa lama perizinan bisa diproses.

"Kami pebisnis ada target waktunya. Apalagi perusahaan Tbk, investor pasti nanya," tutupnya.

Rabu, 12 November 2014

Harga Bahan Bangunan Naik, Laju Pasar Residensial Melambat

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya perlambatan dalam laju harga properti baik secara triwulan maupun tahunan. Penurunan, disebabkan adanya peningkat harga di beberapa sektor.

Melansir keterangan tertulis BI, Rabu (12/11/2014), ada beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penyebab lambatnya kenaikan harga properti rumah. Di antaranya adalah karena kenaikan harga bahan bangunan disertai kenaikan upah pekerja.

Secara triwulan indeks harga rumah hanya tumbuh 1,46 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,69 persen. Sedangkan secara tahunan. hanya tumbuh 6,53 persen, lebih rendah bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,40 persen.

b

Berdasarkan faktor tersebut, tekanan kenaikan harga yang melambat diperkirakan masih akan berlanjut sampai triwulan IV tahun. Perlambatan tersebut akan lebih berdampak pada rumah tipe kecil.

Sementara itu, berdasarkan wilayah, Makasar tercatat mengalami perlambatan harga tertinggi, terutama untuk tipe menengah.